Rabu, 14 Maret 2012

Gerakan Sayang Ibu


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Upaya meminimalisasi dan menurunkan tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balita maka semua persalinan yang ditangani oleh dukun bayi harus beralih ditangani oleh bidan. Kecuali hal-hal yang berhubungan dengan adat dan kebiasaan setempat dengan menjalin hubungan antara dukun dan bidan, tetapi kemitraan yang berjalan saat ini masih dalam batas pemaknaan transfer ilmu pengetahuan, serta masih dalam bentuk pembinaan cara-cara persalinan yang higienis kepada dukun bayi.
Salah satu kasus kesehatan yang masih banyak terjadi di Indonesia adalah persalinan dengan pertolongan oleh dukun bayi. Kenyataannya, hampir semua masyarakat Indonesia baik itu yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan lebih senang ditolong oleh dukun. Hal tersebut disebabkan oleh tradisi dan adat istiadat setempat. Dan cara atau strategi untuk membangun cohesive network di antara para pemuka setempat, masyarakat, dukun dan bidan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan maternal dan perinatal secara bersama-sama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. Informan yang dipilih adalah Pembinaan kader dalam rangka satuan GSI. Tujuan dari Pembinaan kader ini adalah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengembangkan pengetahuan tentang “ASKEB V (Kebidanan Komunitas)” khususnya pada pembahasan tentang Pembinaan Kader dalam rangka Satuan GSI.
2.      Untuk menambah wawasan kita sebagai mahasiswa Akademi Kebidanan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
3.      Sebagai pemenuhan tugas dari mata kuliah ASKEB V (Kebidanan Komunitas).
1.3.Manfaat Penulisan

1.      Untuk mahasiswa sebagai bahan pembelajaran untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya dari mata kuliah ASKEB V (Kebidanan Komunitas).
2.      Untuk institusi sebagai referensi dalam kegiatan perkuliahan untuk mencapai peningkatan mutu dan kualitas mahasiswa dalam mencapai akreditasi.


















BAB II
PEMBAHASAN
2.1.            Definisi Kader
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat untuk berkerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sedarhana.
Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab atas masyarakat setempat serta pimpinan yang ditujuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Diharapkan mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.
Para kader kesehatan masyarakat untuk mungkin saja berkerja secara fullteng atau partime dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh puskesmas. Namun ada juga kader kesehatan yang disediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya oleh masyarakat setempat.




2.2.            Peran Fungsi Kader
Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat:
a.       Perilaku hidup bersih dan sehat.
b.      Pengamatan terhadap masalah kesehatan didesa.
c.       Upaya penyehatan dilingkunganpeningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita.
d.      Permasyarakatan keluarga sadar gizi.
Kader ditunjukan oleh masyarakat dan biasanya kader melaksanakan tugas-tugas kader kesehatan masyarakat yang secara umum hampir sama tugasnya dibeberapa Negara yaitu  :
1.               Pertolongan pertama pada kecelakaan dan penanganan penyakit yang ringan.
2.               Melaksanakan pengobatan yang sederhana.
3.               Memberian motivasi dan saran-saran pada ibu-ibu sebelum dan sesudah melahirkan.
4.               Menolong persalinan.
5.               Pemberian motivasi dan saran-saran tentang perawatan anak.
6.               Memberikan motivasi dan peragaan tentang gizi.
7.               Program penimbangan balita dan pemberian makanan tambahan.
8.               Pemberian motivasi tentang imunisasi dan bantuan pengobatan.
9.               Melakukan penyuntikan imunisasi.
10.           Pemberian motivasi KB.
11.           Membagikan alat-alat KB.
12.           Pemberian motivasi tentang sanitasi lingkungan,kesehatan perorangan dan kebiasaan sehat secara umum.
13.           Pemberian motivasi tentang penyakit menular,pencegahan dan perujukan.
14.           Pemberian motivasi tentangperlunya fall up pada penyakit menular dan perlunya memastikan diagnosis.
15.           Penenganan penyakit menular.
16.           Membantu kegiatan di klinik.
17.           Merujuk penderita kepuskesmas atau ke RS.
18.           Membina kegiatan UKS secara teratur.
19.           Mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh puskesmas membantu pencatatan dan pelaporan.

2.3.            Pembentukan Kader
Mekanisme pembentukan kader membutuhkan kerjasama tim. Hal ini disebabkan karena kader yang akan dibentuk terlebih dahulu harus diberikan pelatihan kader. Pelatihan kader ini diberikan kepada para calon kader didesa yang telah ditetapkan. Sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan persiapan tingkat desa berupa pertemuan desa, pengamatan dan adanya keputusan bersama untuk terlaksanakan acara tersebut. Calon kader berdasarkan kemampuan dan kemauan berjumlah 4-5 orang untuk tiap posyandu. Persiapan dari pelatihan kader ini adalah :
a)      Calon kader yang kan dilatih.
b)      Waktu pelatihan sesuai kesepakatan bersama.
c)      Tempat pelatihan yang bersih, terang, segar dan cukup luas.
d)     Adanya perlengkapan yang memadai.
e)      Pendanaan yang cukup.
f)       Adanya tempat praktik ( lahan praktik bagi kader ).
Tim pelatihan kader melibatkan dari beberapa sector. Camat otomatis bertanggung jawab terhadap pelatihan ini, namun secara teknis oleh kepala puskesmas. Pelaksanaan harian pelatihan ini adalah staf puskesmas yang mampu melaksanakan. Adapun pelatihannya adalah tanaga kesehatan, petugas KB (PLKB), pertanian, agama, pkk, dan sector lain.
Waktu pelatihan ini membutuhkan 32 jam atau disesuaikan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, simulasi, demonstrasi, pemainan peran, penugasan, dan praktik lapangan. Jenis materi yang disampaikan adalah:
a)      Pengantar tentang posyandu.
b)      Persiapan posyandu.
c)      Kesehatan ibu dan anak.
d)     Keluarga berencana.
e)      Imunisasi.
f)       Gizi.
g)      Penangulangan diare.
h)      Pencatatan dan pelaporan.
Setelah kader posyandu terbentuk, maka perlu ada nya strategi agar mereka dapat selalu eksis membantu masyarakat dibidang kesehatan.
a)      Refresing kader posyandu pada saat posyandu telah selesai dilaksanakan oleh bidan desa maupun petugas lintas sector yang mengikuti kegiatan posyandu.
b)      Adanya perubahan kader posyandu tiap desa dan dilaksanakan pertemuan rutin tiap bulan secara bergilir disetiap posyandu.
c)      Revitalisasi kader posyandu baik tingkat desa maupun kecamatan. Dimana semua kader di undang dan diberikan penyegaran materi serta hiburan dan bisa juga diberikan rewards.
d)     Pemberian rewards rutin misalnya berupa kartu berobat gratis kepuskes untuk kader dan keluarganya dan juga dalam bentuk materi yang lain yang diberikan setiap tahun
Para kader kesehatan yang bekerja dipedesaan membutuhkan pembinaan atau pelatihan dalam rangka menghadapi tugas-tugas mereka, masalah yang dihadapinya. Pembinaan atau pelatihan tersebut dapat berlangsung selama 6-8 minggu atau bahkan lebih lama lagi. Salah satu tugas bidan dalam upaya menggerakkan peran serta masyarakat adalah melaksanakan pembinaan kader.
Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam pembinaan kader adalah.
1.                Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan ( promosi bidan siaga).
2.                Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta rujukannya.
3.                Penyuluhan gzi dan keluarga berencana.
4.                Pencatatan kelahiran dan kematian Bayi atau Ibu.
5.                Promosi Tabulin, donor darah berjalan,ambulan desa,suami siaga,satgas gerakan saying ibu.
Pembinaan kader yang dilakukan bidan didalamnya berisi tentang perran kader adalah dalam daur kehidupan wanita dari mulai kehamilan sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam persiapan persalinan adalah sebagai berikut :
a)                Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong oleh bidan atau dokter.
b)                Suami atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.
c)                Ibu dan suami menanyakan kebidan atau kedokter kapan perkiraan tanggal persalinan.
d)               Jika ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan terang, tempat tidur dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun untuk cuci tangan, handuk kain, pakaian kain yang bersih dan kering dan pakaian ganti ibu.
Pembinaan kader yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan maupun hal-hal berikut ini.
-       Perdarahan ( hamil muda dan hamil tua).
-       Bengkan dikaki, tangan, wajah, atau sakit kepala kadang disertai kejang
-       Demam tinggi
-       Keluar air ketuban sebeleum waktunya
-       Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak
-       Ibu muntah terus dan tidak mau makan

2.4.            Pengenalan Tanda Bahaya Kehamilan, Persalinan, Nifas serta Rujukan
1.      Tanda-tanda bahaya kehamilan
Pada setiap kehamilan perlu di informasikan kepada ibu, suami dan keluarga tentang timbulnya kemungkinan tanda-tanda bahaya dalam kehamilan. Adanya tanda-tanda bahaya mengharuskan ibu, suami / keluarga untuk segera membawa ibu kepelayanan kesehatan / memanggil bidan.

Tanda-tanda bahaya kehamilan meliputi :
a)      Perdarahan jalan lahir
b)      Kejang
c)      Sakit kepala yang berlebihan
d)     Muka dan tangan bengkak
e)      Demam tinggi menggigil / tidak
f)       Pucat
g)      Sesak nafas
2.      Tanda-tanda kegawatan dalam persalinan
Sebagai akibat dari permasalahan dalam persalinan, kegawatan dalam persalinan dapat terjadi dengan tanda-tanda sebagai berikut :
a)      Perdarahan
b)      Kejang
c)      Demam, menggigil, keluar lender dan berbau
d)     Persalinan lama
e)      Mal presentase
f)       Plasenta tidak lahir dalam 30 menit
3.      Kegawatan masa nifas
Pada masa segera setelah persalinan, kegawatan dapat terjadi baik pada ibu ataupun bayi. Kegawatan yang dapat mengancam keselamatan ibu baru bersalin adalah perdarahan karena sisa plasenta dan kontraksi serta sepsis (demam). Pada bayi yang baru dilahirkan dapat terjadi depresi bayi dan atau trauma.
Bila terjadi kegawatan pada ibu / bayi beri tahu ibu, suami dan keluarga tentang tatalaksanaan yang dikerjakan dan dampak yang dapat ditimbulkan dari tatalaksana tersebut. Serta persiapan tindakan rujukan. Tindakan ini perlu untuk melibatkan ibu, suami dan keluarga sehingga tercapai suatu kerjasama yang baik.
Apabila ibu dan bayi sudah berada dirumah, informasikan kepada ibu, suami dan keluarga bahwa adanya tanda-tanda kegawatan mengharuskan ibu untuk dibawah segera kesarana pelayanan kesehatan atau menghubungi bidan.
Ø  Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu yang perlu diperhatikan meliputi :
a)      Perdarahan banyak atau menetap
b)      Rasa lelah yang sangat, mata, bibir dan jari pucat
c)      Bengkak pada salah satu atau kedua kaki
d)     Rasa sakit pada perut berlebihan dan lokia berbau busuk atau berubah warna
e)      Pucat, tangan dan kaki dingin (syok)
f)       Tidur turun dratis
g)      Kejang
h)      Sakit kepala berlebihan / gangguan pandangan
i)        Bengkak pada tangan dan muka
j)        Peningkatan tekanan darah
k)      Buang air kecil sedikit / berkurang dan sakit
l)        Tidak mampu menahan BAK / ngompol
m)    Demam tanpa atau dengan menggigil
n)      Adanya kesedihan yang mendalam, kesulitan dalam tidur, makan dan merawat bayi
Adanya salah satu tanda kegawatan tersebut mengharuskan ibu mendapatkan pelayanan dari bidan / mencari pertolongan kesarana pelayanan kesehatan.
Ø  Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada bayi
Pada bayi sebagian besar penyebab kematian adalah karena infeksi, asveksia dan trauma pada bayi. Pengenalan tanda-tanda kegawatan pada bayi perlu untuk dilakukan penatalaksanaan lebih dini yang sesuai yang dapat menurunkan kematian tersebut.
Kegawatan bayi dapat terjadi hari-hari pertama masa nifas dan perlu pertolongan segera ataupun dalam 7 hari pertama masa nifas yang juga memerlukan pertolongan disarana pelayanan kesehatan.
Kegawatan bayi beberapa hari setelah persalinan harus segera dibawah kesarana pelayanan kesehatan / hubungi bidan :
1.      Bayi sulit bernafas
2.      Warna kulit dan mata kuning
3.      Pernafasan lebih dari 60 x / menit
4.      Kejang
5.      Pendarahan
6.      Demam
7.      Bayi tidur sepanjang malam dan tidak mau menetek sepanjang hari
8.      Tidak dapat menetek (mulut kaku)
Kegawatan bayi 7 hari pertama masa nifas yang membutuhkan perawatan bidan / dibawah kesarana pelyanan kesehatan secepatnya :
a)      Hypothermia
b)      Pucat / kurang aktif
c)      Diare / konstipasi
d)     Kesulitan dalam menetek
e)      Mata merah dan bengkak / nanah
f)       Merah pada tali pusat / tercium bau
4.      Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu kepfasilitas rujukan / fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun 10 sampai 15 % diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk kefasilitas kesehatan rujukan. Sangat sulit untuk menduga kapan penyakit akan terjadi sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan atau bayinya kefasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu (jika penyulit terjadi) menjadi saran bagi keberhasilan upaya penyelamatan, setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan yang mampu untuk menatalaksana kasus gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir seperti :
1.      Pembedahan termasuk bedah sesar
2.      Transfuse darah
3.      Persalinan menggunakan ekstraksi fakum / cunam
4.      Pemberian anti biotik intravena
5.      Resusitasi BBL dan asuhan lanjutan BBL
Informasi tentang pelayanan yang tersedia ditempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ketempat rujukan dadlah wajib untuk diketahui oleh setiap penolong persalinan jika terjadi penyulit, rujukan akan melalui alur yang singkat dan jelas. Jika ibu bersalin / BBL dirujuk ketempat yang tidak sesuai maka mereka akan kehilangan waktu yang sangat berharga untuk menangani penyakit untuk komplikasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka pada saat ibu melakukan kunjungan antenatal,jelaskan bahwa penolong akan selalu berupaya dan meminta bekerja sama yang baik dari suami / keluaga ibu untuk mendapatkan layanan terbaik dan bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayinya,termasuk kemungkinan perlunya upaya rujukan pada waktu penyulit,seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan dan ketidaksiapan ini dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya.
Anjurkan ibu untuk membahas dan membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya. Tawarkan agar penolong mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan tentang perlunya rencana rujukan apabila diperlukan.
Masukan persiapan-persiapan dan informasi berikut kedalam rencana rujukan :
1.      Siapa yang akan menemani ibu dan BBL.
2.      Tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga? (jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan).
3.      Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya ingat bahwa transportasi harus segera tersedia, baik siang maupun malam.
4.      Orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika transfuse darah diperlukan.
5.      Uang yang disisihkan untuk asuhan medik, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan.
6.      Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak dirumah.
Kaji ulang rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus dilakukan selama ibu melakukan kunjungan asuhan antenatal / diawal persalinan (jika mungkin). Jika ibu belum membuat rencana rujukan selama kehamilannya, penting untuk dapat mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya diawal persalinan. Jika timbul masalah pada saat persalinan dan rencana rujukan belum dibicarakan maka sering kali sulit untuk melakukan semua persiapan-persiapan secara cepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan saying ibu dalam mendukung keselamatan ibu dan BBL.
Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam mempersiapkan rujukan untuk ibu dan bayi.
B (Bidan) : Pastikan bahwa ibu dan bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompeten untuk menatalaksana gawat darurat obstetri dan BBL untuk dibawah kefasilitas rujukan.
A (Alat) : Bawah perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan BBL (tabung suntik, selang iv, alat resusitasi, dll) bersama ibu ketempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan dalam perjalanan menuju fasilitas rujukan.
K (Keluarga) : Beri tahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan bayi dan mengapa ibu dan bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alas an dan tujuan merujuk ibu kefasilitas rujukan tersebut. Suami / anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan BBL hingga kefasilitas rujukan.
S (Surat) : Berikan surat ketempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan BBL, cantumkan alas an rujukan dan uraikan hasil penyakit, asuhan / obat-obatan yang diterima ibu dan BBL. Sertakan juga partograf yang dipakai untuk membuat keputusan klinik
O (Obat) : Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu kefasilitas rujukan. Obat-obatan tersebut mungkin diperlukan selama diperjalanan.
K (Kendaraan) : Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi cukup nyaman. Selain itu, pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai tujuan pada waktu yang tepat.
U (Uang) :ingatkann keluarga agar membawah uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan bayi baru lahir tinggal difasilitas rujukan.

2.5.            Gerakan Sayang Ibu (GSI)
Gerakan Sayang Ibu adalah Suatu Gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta penurunan angka kematian bayi.
Gerakan Sayang Ibu perlu dilakukan karena :
-       SDM yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan suatu pembangunan.
-       Pembentuakan kualitas SDM yang berkualitas ditentukan dari janin dalam kandungan, karena perkembangan otak terjadi selama hamil sampai dengan 5 tahun.
-       Kesehatan Ibu dan Anak factor paling strategis untuk meningkatkan mutu SDM.
-       Angka Kematian Ibu ( AKI ) karena hamil, bersalin dan nifas di Indonesia tergolong tinggi diantara Negara2 ASEAN.
-       Tingginya AKI dan AKB di Indonesia memberikan dampak negati pada berbagai aspek.
-       Kematian Ibu menyebabkan bayi menjadi piatu yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualitas SDM akibatnya kurangnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang seorang ibu.
Angka Kematian Ibu karena melahirkan dan nifas ( AKI ) di Kota Yogyakartatahun 2007 yaitu: 4/4872.
Dasar Pelaksanaan :
·         Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984, tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan segala bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan;
Kesepakatan Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat, Menteri Kesehatan, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tanggal 12 Maret 2002;
Maksud dan Tujuan :
·         Menyegarkan dan meningkatkan pengetahuan Satgas GSI tentang berbagai program Gerakan Sayang Ibu ( GSI ) dari stake holder terkait.
·         Menyegarkan dan meningkatkanpengetahuan Satgas Gerakan Sayang Ibu ( GSI ) tentang peran stake holder terkait dalam Gerakan Sayang Ibu.
Identifikasi Masalah yang menyebabkan kematian Ibu faktor determinan yang perlu diperhatikan antara lain :
-       Kondisi sosial Ekonomi keluarga meliputi : pendapatan ( daya beli ), derajat pendidikan ibu, pengetahuan keluarga dan masyarakat tentang kesehatan.
-       Kesehatan reproduksi : umur, paritas, status perkawinan.
-       Tingkat partisipasi masyarakat . Potensi institusi dan peran serta masyarakat.
-       Kondisi sosial budaya masyarakat ( nilai-nilai budaya yang mendukung dan menghambat).
-       Komitmen politik dan pemerintah daerah : Gubernur, Bupati/Walikot, Camat dan Kepala Desa/Lurah.
Komitmen para pelaksana : PLKB, Bidan, dll Jenis-Jenis Intervensi yang dapat dilakukan oleh Daerah : Setiap Daerah memiliki variasi alternatif pemecahan masalah yang berbeda-beda. Untuk itu jenis-jenis intervensi yang dilakukan disesuaikan dengan sosial budaya, ekonomi dan tingkat pendidikan keluarga dan masyarakat. Karena melalui GSI diharapkan akan dapat menekan angka kematian ibu dan bayi, beberapa sebab kematian ibu dan bayi yang menonjol disebabkan oleh : pendarahan, eklamsia (keracunan kehamilan), infeksi, penanganan abortus yang tidak aman dan partus (Persalinan) yang lama.Angka kematian ibu dan bayi yang tinggi juga disebabkan oleh adanya hal-hal diluar medis seperti kurang adanya kesetaraan gender, nilai budaya di masyarakat yang merendahkan perempuan. Masalah tersebut mengakibatkan rendahnya perhatian suami/laki-laki terhadap masalah ibu melahirkan serta kurangnya kemampuan untuk membuat keputusan bagi kesehatan diri sendiri.
Selanjutnya dikatakan bahwa GSI adalah gerakan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi yang dilaksanakan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat, untuk lebih meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kepedulian dalam upaya interaktif dan sinergis.Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu wujud hak asasi perempuan dan anak, akan tetapi pada saat ini kesehatan ibu dan anak khususnya bayi baru lahir, merupakan tugas bersama antara pemerintah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi perempuan dan organisasi profesi. Disamping itu strategi Pemerintah dalam meningkatkan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi ini juga dilakukan program advokasi, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) bagi bidan, LPM, PKK, PLKB, tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pendataan ibu hamil serta pengembangan rujukan oleh masyarakat serta peningkatan kualitas kesehatan kepada masyarakat. Disamping ada “SIAGA” ( siap, antar, jaga ) oleh pemerintah juga telah dikembangkan P 4 K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) yang dimaksudkan untuk menuju persalinan yang aman dan selamat bagi ibu.Selain itu juga untuk meringankan warga dalam hal pembayaran, biaya persalinan tersebut dicicil melalui tabungan ibu bersalin (tabulin). Cicilan dibayar sejak seorang ibu positif hamil sampai tiba saatnya melahirkan. Besar cicilan disesuaikan kemampuan masing-masing keluarga. Ada yang mencicil Rp 200 seminggu atau lebih. Uang itu disimpan pada bidan desa. Bila saat melahirkan tiba namun tabulin belum mencapai Rp 175.000, ibu bersangkutan boleh mencicil sisa biaya setelah melahirkan.
Menurut Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) warga yang belum sanggup mencicil akan ditalangi. Dana talangan diambil dari tabulin para ibu lain. Para ibu hamil di desa itu juga diperiksa secara periodik (antenatal care) oleh bidan desa. Setiap ibu hamil mendapat kartu hasil pemeriksaannya sesuai dengan status kesehatannya. Misalnya, kartu warna merah untuk ibu hamil yang kondisinya kritis. Kartu kuning untuk ibu hamil yang mempunyai faktor risiko, dan kartu hijau untuk kehamilan normal.
Diharapkan langkah – langkah tersebut merupakan langkah preventif untuk menekan angka kematian ibu. Oleh sebab itu program Gerakan Sayang Ibu kali ini, diharapkan menjadi momentum untuk memperhatikan dan memprioritaskan peningkatan gizi pada ibu hamil. Harapannya ”Ibu Sehat, Anak Sehat, Bangsa Kuat“ dapat terwujud















BAB III
PENUTUP

3.1.            Kesimpulan
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat untuk berkerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat:
-       Perilaku hidup bersih dan sehat.
-       Pengamatan terhadap masalah kesehatan didesa.
-       Upaya penyehatan dilingkunganpeningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita.
-       Permasyarakatan keluarga sadar gizi.
Calon kader berdasarkan kemampuan dan kemauan berjumlah 4-5 orang untuk tiap posyandu. Persiapan dari pelatihan kader ini adalah :
-       Calon kader yang kan dilatih.
-       Waktu pelatihan sesuai kesepakatan bersama.
-       Tempat pelatihan yang bersih, terang, segar dan cukup luas.
-       Adanya perlengkapan yang memadai.
-       Pendanaan yang cukup.
-       Adanya tempat praktik ( lahan praktik bagi kader ).
Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam pembinaan kader adalah.
1.      Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan ( promosi bidan siaga).
2.      Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta rujukannya.
3.      Penyuluhan gzi dan keluarga berencana.
4.      Pencatatan kelahiran dan kematian Bayi atau Ibu.
5.      Promosi Tabulin, donor darah berjalan,ambulan desa,suami siaga,satgas gerakan saying ibu.
Gerakan Sayang Ibu adalah Suatu Gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta penurunan angka kematian bayi.
Gerakan Sayang Ibu perlu dilakukan karena :
-       SDM yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan suatu pembangunan.
-       Pembentuakan kualitas SDM yang berkualitas ditentukan dari janin dalam kandungan, karena perkembangan otak terjadi selama hamil sampai dengan 5 tahun.
-       Kesehatan Ibu dan Anak factor paling strategis untuk meningkatkan mutu SDM.
-       Angka Kematian Ibu ( AKI ) karena hamil, bersalin dan nifas di Indonesia tergolong tinggi diantara Negara2 ASEAN.
-       Tingginya AKI dan AKB di Indonesia memberikan dampak negati pada berbagai aspek.
-       Kematian Ibu menyebabkan bayi menjadi piatu yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualitas SDM akibatnya kurangnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang seorang ibu.

3.2.            Saran-Saran
-       Diharapkan dengan terbentuknya Pembinaan kader dan GSI (Gerakan Sayang Ibu) dapat berperan dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Dengan menurunnya AKI dan AKB akan mencerminkan Bangsa yang Sehat dan Berkualitas dalam bidang Kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Bari saifudin, abdul. 2002. buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta : yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Prof. Dr. Azwar, Azrul. MPH. 2002. asuhan persalinan normal. Jakarta : tim revisi edisi 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar